“ORASI UNTUK PEMUDA INDONESIA”


Indonesia sejak dahulu kala disebut sebagai tanah surga karena mengandung kekayaan alam mineral tambang di perut buminya, tanah yang subur di lapisan permukaanya, curah hujan yang banyak di langitnya, dan salah satu negeri dengan keanekaragaman hayati tertinggi menghiasi ekosistemnya. Sungguh patut bersyukur negeri ini diciptakan diantara deretan gunung merapi yang mewariskan tanah pertanian yang subur, dikelilingi lautan yang luas yang menyimpan keanekaragaman hayati biota laut, garis pantai yang panjang dan indah tempat berkumpulnya ikan, Hutan hujan tropis yang luas sebagai jalur sirkulasi paru-paru bumi dan pemanen air, serta memiliki jalur garis khatulistiwa yang mengundang matahari untuk bersinar sepanjang tahun.

Tanah pertanian di Indonesia menyuplai kebutuhan kurang lebih 230 juta jiwa penduduknya. Walaupun sebagian komoditas masih diimpor terutama untuk komoditas serelia seperti padi dan kedelai atau komoditas sumber protein hewani seperti daging dan susu, tetapi sesunguhnya pertanian Indonesia mempunyai keunggulan baik dari sisi sumber daya alam ataupun sumber daya manusia yang perlu terus dikembangkan. Tuhan memberikan kita deretan tanah yang subur sepanjang Pulau Sumatera hingga Pulau Papua. Bahkan Kalimantan yang sebagian tanahnya merupakan lahan gambut, saat ini menjadi salah satu sumber penghasil minyak sawit dunia. Budidaya jagung skala besar saat ini telah dikembangkan di Pulau Sulawesi, Tebu dibudidayakan di Lampung, Jawa, dan akan segera menjejakkan akarnya di Pulau Madura, Hampir seluruh wilayah Indonesia menanam padi, Di papua mulai diusahakan budidaya tanaman sorghum dan sagu di lahan yang luas sebagai sumber pangan alternatif berkadar karbohidrat tinggi. Daerah Nusa Tenggara sedang mengembangkan peternakan sapi untuk memenuhi kebutuhan daging putra putri bangsa dan juga sedang diteliti untuk pengembangan budidaya jarak pagar sebagai sumber bahan bakar alternatif biodiesel.

Kandungan mineral yang dibenamkan tuhan di dalam perut bumi bangsa ini pun harusnya kita syukuri dengan sebesar-besarnya. Kandungan emas tertanam di Pulau Papua. Kandungan perut bumi berupa batu bara di Kalimantan Tengah masih menjadi salah satu tumpuan sumber energi listrik nasional. Kandungan minyak potensial tersebar di perut bumi Nusantara baik di darat dan di laut seperti yang telah diketahui yaitu di Riau dan perairan Kalimantan Timur. Sedangkan cadangan minyak tersebar di Sumatera bagian tengah dan Jawa Barat. Eksplorasi pencarian kandungan minyak saat ini masih terus dilakukan oleh anak-anak bangsa guna memenuhi kebutuhan energi nasional yang terus meningkat.

Lautan Indonesia menyimpan potensi besar dan merupakan kebanggaan Bangsa Indonesia. Lautan luas adalah kebanggaan nenek moyang kita, para pelaut Nusantara. Negeri ini dikelilingi oleh lautan luas dengan biodiversitas hayati yang tinggi dan pantai-pantai yang indah. Siapa yang tidak tahu bahwa kebutuhan teri nasi Negeri Sakura Jepang sebagian besar ditangkap oleh para nelayan kita di sepanjang pantai utara Jawa, Tangan pekerja keras para petambak di sepanjang pantai utara Jawa, Sulawesi, dan Maluku telah mampu menghasilkan udang dan rumput laut untuk ekspor. Ikan Tuna yang diekspor ke luar negeri diambil di Lautan Pasifik, Perairan Sulawesi dan Maluku. Perikanan air tawar tidak kalah berkembang di negeri kaya ini. Ikan nila, gurame, mas, dan lele masih menjadi primadona dan dibudidayakan secara besar-besaran hampir diseluruh wilayah Indonesia seperti di Riau, Bengkulu, Lampung, Jawa Barat, jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku.

Peternakan Indonesia pun terus berinovasi. Komitmen dan cita-cita anak bangsa untuk berswasembada daging terus diusahakan. Program inseminasi buatan terus disosialisaikan kepada peternak sapi di seluruh Indonesia sementara teknologi transfer embrio untuk sapi terus dikembangkan guna mendapatkan bibit unggul di negeri sendiri. Peternakan sapi FH tersebar di Jawa Barat, Jawa Timur, dan Sumatera untuk memenuhi kebutuhan susu anak bangsa. Kebutuhan daging ayam dan telur dihasilkan dari para peternak ayam di seluruh wilayah Indonesia seperti di Jawa, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, Sumatera Selatan, dan Lampung. Industri peternakan ayam telah mampu mensuplai kebutuhan daging di negeri sendiri dan terbukti memiliki sistem yang kuat karena dapat terus bertahan dan berkembang walau telah berulang kali dihantam badai krisis ekonomi.

Indonesia permata hijau dengan kekayaan melimpah juga menyimpan tenaga-tenaga ahli unggulan yang berkiprah di berbagai bidang. Anak-anak bangsa ini telah berkarya dan membuka mata dunia bahwa Indonesia adalah negeri dengan segudang tenaga ahi terdidik potensial. Banyak diantara anak-anak bangsa ini yang mendapat kesempatan beasiswa menimba ilmu di luar negeri bahkan dibiayai hingga menjadi tenaga ahli di bidangnya. Siapa yang tidak kenal Prof. BJ Habibie, Pemrakarsa dan Insinyur CN-235, pesawat terbang pertama Indonesia. Siapa yang tidak kenal Prof. Ken Soetanto, pria kelahiran Indonesia yang sekarang menjadi professor di Universitas Waseda Jepang. Siapa yang tidak kenal dengan Prof. MT Zen ahli permiyakan ITB yang disegani di dunia. Siapa yang tidak kenal dengan Dr. Yogi Erlangga ahli matematika terapan Indonesia yang telah memecahkan persamaan yang dicari oleh perusahaan minyak seluruh dunia karena dapat melakukan perhitungan pencarian sumber minyak seribu kali lebih cepat dari metode biasa. Dan masih banyak insan muda permata bangsa yang bertebaran di seantero dunia.

Tapi di tengah segala anugerah tuhan itu pasti selalu ada tantangan, selalu ada pendakian. Itulah jalan untuk menjadi bangsa yang besar. Bangsa Indonesia telah melalui segala pendakian tersebut hingga sampai pada detik ini. Sudah banyak darah dan harta yang dikorbankan para pahlawan untuk berjuang menegakkan merah putih ke angkasa dengan pekikan kata-kata “MERDEKA”. Kakek dan nenek kita atau bahkan bapak dan ibu kita pasti mengalami masa revolusi politik perpindahan kekuasaan dari Presiden Soekarno ke Presiden Soeharto di sekitar tahun 1965. Lalu lembaran catatan bangsa pun berjalan sampai adanya ketidakstabilan politik karena krisis ekonomi yang menyebabkabn turunnya Presiden Soeharto di era tahun 1998. Dan pemuda bangsa saat ini mengalami jaman perang globalisasi dunia, perang di segala aspek kehidupan untuk memenangkan pengaruh dan kepentingan. Perang yang sangat dahsyat, rumit dan memerlukan strategi tinggi untuk dapat bertahan. Dan saat ini peran para pemuda bangsa sangat diperlukan untuk menyongsong segala tantangan di depan. Bukan lagi cara-cara lama yang dibutuhkan, tapi inovasi yang saat ini kita butuhkan. Pemuda adalah sumber inovasi, sumbernya perubahan untuk meningkatkan daya saing bangsa. Pemuda dan para generasi sebelumnya harus bekerja sama untuk berjuang. Peran pemuda untuk terus berkarya, berinovasi, menempa diri dan mempersiapkan diri untuk menerima tugas estafet pejuangan dari generasi sebelumnya. Sedangkan para generasi yang lebih tua memberikan arahan dan nasehat, mentransfer visi dan misi bangsa, serta melatih mental para generasi muda agar siap berjuang di garis terdepan perjuangan bangsa.

Masalah di depan sungguh telah menunggu untuk diselesaikan. Revitalisasi pertanian yang saat ini di jalankan perlu untuk dipercepat dan tepat sasaran serta lebih memperhatikan daya dukung lingkungan. Diantara isu yang penting yaitu isu tentang impor beras dan kedelai harusnya menjadi pemacu para pemuda untuk berinovasi, bukannya untuk bertarung memperdebatkan siapa yang bertanggung jawab. Tantangan di sektor tanaman padi dan kedelai adalah kesejahteraan petani dan perubahan iklim. Diperlukan adanya mitigasi terhadap setiap aspek kegiatan pertanian padi dan kedelai yang sifatntya terdesentralisasi di masing-masing daerah pertanian dan sesuai dengan kearifan lokal setempat, bukan lagi kebijakan yang selalu terpusat. Manajemen informasi harga harus dikembangkan sehingga benar-benar sampai pada petani dan menyediakan akses ekonomi yang cukup guna memutus mata rantai panjang kegiatan penjualan komoditas pertanian dari sentra produksi hingga ke konsumen. Perluasan areal kelapa sawit yang terkena tudingan tidak ramah lingkungan dengan membabat habis hutan dan ekosistem nya harusnya menjadi cambuk seluruh stakeholder perkebunan untuk lebih disiplin menegakkan aturan dan melasanakan rencana pembangunan kebun yang sustainable. Kejujuran harus ditegakkan dari mulai Planter di areal kebun, perusahaan perkebunan, hingga pembuat kebijakan di pemerintahan agar permasalahan yang terjadi nun jauh di pelosok kebun dapat diketahui dan dipecahkan dengan cara yang paling bijak. Sehingga tidak ada lagi kebun yang sengaja dibakar untuk replanting, Pembukaan kebun yang membabat hutan lindung, Atau konflik antara masyarakat adat dengan perusahaan perkebunan memperebutkan wilayah sumber ekonomi. Revitalisasi industri gula yang berjalan lambat perlu dipecahnkan. Komitmen untuk memproduksi gula nasional daripada mengimpor harus dikuatkan kembali. Peremajaan pabrik-pabrik gula yang ada harus dilakukan dengan penuh tanggung jawab dan tulus agar tidak terjadi kasus KKN di kemudian hari. Pemilihan lahan, edukasi petani tebu, penelitian bibit unggul, serta pembinaan hubungan antar stakeholder industri gula harus dipererat guna bersatu melaksanakan revitalisasi industri gula nasional.

Masalah energi juga merupakan tantangan yang besar di depan. Efisiensi penggunaan energi yang bijak harus terus disosialisasikan. Konsesi untuk pertambangan yang dilakukan pihak asing harus lebih jelas lagi. Tidak seharusnya  Indonesia hanya menjadi tamu di rumahnya sendiri, terutama di sektor pertambangan strategis seperti minyak dan emas. Sebenarnya para tenaga ahli perminyakan kita telah banyak dan tersebar di peruhaan minyak dunia seperti Exxon, Chevron, hingga ada pula yang sampai bekerja ke Jazirah Arab. Tetapi ironisnya BUMN perminyakan Indonesia malah mengalami defisit tenaga ahli perminyakan. Hal ini menantang BUMN perminyakan Indonesia agar lebih profesional dalam pengelolaanya sehingga tenaga ahli bangsa ini lebih memilih bekerja di negeri sendiri. Sebagian besar wilayah ladang minyak juga masih dikelola oleh perusahaan besar asing seperti Exxon, Chevron, Conoco Philips dan lain-lain, sedangakan perusahaan Indonesia belum mampu dengan alasan keterbatasan teknologi. Seharusnya di lakukan langkah yang berani dari para stakeholder dalam negeri untuk bisa mandiri di tanahnya sendiri. Kerjasama dengan negara-negara yang lebih terbuka untuk transfer energi perlu dipertimbangkan seperti dengan Norwegia yang telah lebih mandiri dalam teknologi perminyakan. Pengembangan energi alternatif baik skala mikro seperti bio gas, mikro hidro, dan biodiesel ataupun skala besar seperti PLTA, PLTU, dan bahkan PLTN harus segera direncanakan menjadi rencana nasional yang terintegrasi dan segera dikembangkan di daerah-daerah yang memiliki potensi khas energi guna mengantisipasi defisit energi nasional yang semakin besar.

Dunia perikanan di tanah air juga belum sepenuhnya digarap. Masih banyak potensi laut di sepanjang pantai Indonesia yang belum termanfaatkan. Modal mikro untuk masyarakat pesisir guna mengembangkan usaha perikanan laut perlu diperbanyak, didesain dan diaplikasikan dengan benar agar dapat tepat sasaran. Para sarjana perikanan Indonesia yang mumpuni di bidangnya seharusnya diterjunkan ke masyarakat pesisir untuk membagi pengetahuan dan transfer ilmu kepada para nelayan dan masyarakat pesisir. Seluruh industri hilir perikanan harus sudah menerapkan Sistem yang berbasis HACCP (Hazard Analytical Control Analysis) untuk meminimalisir ditolaknya ekspor produk perikanan Indonesia di luar negeri. Diversifikasi jenis produk ekspor perikanan pun harus lebih tinggi menjadi produk yang siap digunakan. Disamping ikan, industri sumber hewani yang tak kalah penting adalah industri peternakan. Industri peternakan Indonesia terutama perunggasan telah menyebar di seluruh pelosok Indonesia dengan sistem yang telah tertata baik. Komoditas peternakan unggas yang terbesar adalah daging dan telur ayam. Industri peternakan ayam pedaging dan ayam petelur telah terbukti memiliki sistem dari hulu ke hilir yang kuat dan mumpuni dengan didukung oleh kebijakan dan infrastruktur yang relatif mapan. Tetapi hendaknya kebijakan untuk proteksi yang berdaya saing tetap diperlukan guna menciptakan industri peternakan yang kondusif dan efisien, terutama mengenai kebijakan impor daging ayam dari luar negeri.

Tingkat konsumsi daging sapi dan susu masyarakat Indonesia masih sangat rendah. Saat ini tingkat konsumsi daging sapi masyarakat Indonesia hanya 7 Kg perkapita/tahun. Masih jauh lebih rendah daripada Malasyia yang mencapai 30 Kg perkapita/tahun. Peningkatan produksi perlu dilakukan dengan penambahan jumlah sentra peternakan sapi yang berkualitas guna meningkatkan produksi daging sapi nasional. Saat ini peternak lokal hanya mampu menyediakan 70-75% dari kebutuhan daging sapi nasional. Sisanya masih diimpor dari Australia. Penyebaran pusat penyediaan bibit dan teknologi untuk memperoleh bibit unggul yang efisien perlu disebar di setiap sentra peternakan agar mudah dijangkau oleh peternak. Efisiensi produksi peternak lokal harus didukung dengan bantuan bimbingan teknis untuk teknologi dan bibit dari pemerintah dan dukungan dari permodalan dari lembaga keuangan mikro dengan sistem bagi hasil yang tidak memberatkan peternak.

Demikian beberapa tantangan yang ada di Indonesia. Masih ada banyak tantangan lain di tengah bangsa ini yang belum tersebutkan dan perlu kajian mendalam. Perlu ditanamkan dalam diri kita sikap percaya diri dan kreatif dalam menyelesaikan permasalahan tersebut. Banyak tenaga ahli yang saat ini berkiprah pada bidangnya masing-masing di negeri yang indah ini. Tenaga kerja terampil pun sudah banyak tersedia di negeri ini. Tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini telah mencapai angka 6% di tengah melemahnya perekonomian dunia. Inilah momentum bagi bangsa ini untuk bangkit. Inilah momentum untuk pemuda negeri menegakkan kembali merah putih dengan lebih gagah diangkasa dengan mewujudkan kemandirian bangsa dan kesehateraan nasional yang tercermin di seluruh lapisan masyarakat dari Sabang sampai Merauke. Pemuda Indonesia adalah pemuda yang terus berinovasi, mandiri, jujur, dinamis, serta terus berpegang teguh pada nilai moral dan agama.  Maka jayalah Indonesiaku dengan inovasi para pemuda Indonesia. Berdaya saing, mandiri, dan berpegang teguh pada nilai luhur agama dan bangsa harus tertanam pada setiap insan pemuda bangsa sehingga siap untuk memekikkan kata “Merdeka” ke seantero dunia. Merdeka!!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s