Kontributor sejati atau kompetitor sejati


contribute or competeKadang saya berpikir, sebenarnya manusia itu adalah hasil ciptaan yang paling kompleks yang ada di bumi. Selain penampakan jasad yang bisa dilihat secara kasat mata dan dikaji secara ilmiah dan penampakan ruh yang belum bisa di reka-reka secara ilmiah, manusia juga mempunyai satu aspek sosial berupa kecenderungan untuk berinteraksi dan membentuk desain hubungan diantara mereka.
(*Terlalu berat juga saya berbicara tampaknya……… Hehehehe…. Tapi sungguh itu membuat saya kagum dan makin membuat saya sadar bahwa saya ini hanya bagian kecil dari sebuah penciptaan tetapi terkadang menjadi ‘merasa’ besar dan lupa bahwa saya hanyalah bagian kecil dari penciptaan dan apalagi sering lupa bahwa yang menciptakan akan lebih besar, maha besar tentunya.)
Oke….. Begini jalan ceritanya…..
Masih teringat saya ketika harus berinteraksi dengan teman-teman semasa saya menempuh kuliah sarjana. Kami belajar dan berinteraksi yang relatif terbatas cakupan interaksinya. ‘Hanya’ dosen, mahasiswa, dan staff. Dan tentu saja sistem pengajaran yang ada masih saja mengejar nilai bahkan cenderung saya merasa (semoga salah), kualitas kami saat itu sebagian besar di tentukan oleh nilai yang kami dapatkan di setiap ujian mata kuliah sehingga kami (*kecuali saya tampaknya, karena nilai saya gk bagus-bagus amat) berlomba untuk mendapatkan nilai terbaik. Jika saya tanya teman-teman saya apa motivasinya, maka jawaban nya beragam mulai membahagiakan orang tua hingga ingin mendapatkan perkerjaan yang bagus dengan gaji tinggi dan mendapatkan kedudukan serta dipandang oleh masyarakat. Disini mulai terlihat adanya dorongan akibat interaksi manusia yaitu ingin menjadi pemenang, ingin dipandang masyarakat, dan ingin tidak susah hidupnya. Ada ego yang muncul ditengah solidaritas yang dibangun…… yaitu ego untuk menang dengan legitimasi karena ingin membahagiakan orang tua, ingin membantu keluarga, dan lain-lain.
Ketika lulus dan masuk dunia kerja, manusia kembali dituntut berlomba untuk menang. Menang tender, menang proyek, menang promosi jabatan, menang pemilihan pimpinan, dan menang yang lain-lain. Yang masih karyawan “entry level” ingin segera menyamai yang “senior level”. Yang berada di posisi “senior level” ingin mendominasi dan menjadi pimpinan. Semua berkompetisi hingga sering melupakan tujuan dan motivasi asal pekerjaan nya. Yang kontraktor lupa bahwa dia akan membangun suatu konstruksi yang akan menjadi tempat aktivitas manusia dan melindungi manusia dari resiko yang dihadapi di lokasi tersebut bukannya hanya mengeruk keuntungan proyek. Yang jadi pegawai negeri lupa bahwa tugasnya adalah melayani dan menjadi mitra masyarakat bukannya malah dilayani oleh pengusaha. Yang menjadi konsultan lupa bahwa harus mendesain dan memberikan pertimbangan teknis untuk pengerjaan proyek yang baik bukan nya sering bernegosiasi kualitas pengerjaan dengan pihak pelaksana untuk mendapat keuntungan.dan lain-lain nya. Itu hanya contoh kecil karena saya yakin masih banyak dan sebagian masih setia dengan menjunjung tinggi tujuan luhur profesinya dalam bekerja (*amiiin).

Jadi kenapa kita harus berlomba? Berkompetisi? Dan bersaing? Tentu jawabannya untuk mendapatkan hasil yang terbaik. Yang jadi masalahnya sekarang dimana fokusnya? Di kompetisi nya atau di proses pencapaian hasil terbaik…….. Maka saran saya adalah lebih baik menjadi pecundang (*pihak yang kalah) dengan memperoleh hasil terbaik (walaupun belum dapat diterima hasilnya) dan terus melakukan inovasi untuk meningkatkan kualitas daripada terus berusaha untuk menang dalam persaingan dan fokus pada kompetisi sehingga perhatian terhadap pencapaian kualitas terbaik di nomorduakan (hanya mengejar nilai-nilai yang disyaratkan dalam persaingan). Dengan fokus pada pencapaian terbaik maka akan banyak hal yang dikembangakan dan ditingkatkan. Saya percaya pihak yang menerapkan prinsip untuk peningkatan kualitas akan mempunya konsumen yang mempunyai loyalitas tinggi (*konsumen loyalitas tinggi akan tetap menjaga hubungan dengan anda walaupun anda sedang memimpin persaingan atau sedang dalam keadaan kalah karena mereka mengenal komitmen untuk terus meningkatkan kualitas, untuk terus berproses terhadap hasil yang lebih baik) sedangkan pihak yang fokus untuk berkompetisi hanya mendapatkan konsumen yang ingin mengeruk keuntungan besar (*konsumen yang hanya menghitung hubungan produsen konsumen pada hubungan bisnis semata bukan pada hubungan jangkan panjang untuk menghasilkan kualitas).
Dan inilah yang saya rasa kurang diajarkan di pendidikan pada tingkat profesional seperti pada jenjang Universitas. Berkarya dengan sepenuh hati (*ikhlas) dan menanamkan bahwa keuntungan bekerja (*dalam proyek, perdagangan, pelayanan masyarakat, produksi barang dan lain-lain) bukan hanya dalam bentuk angka-angka yang dihitung diatas kertas berupa keuntungan dan laba tetapi juga keuntungan yang tak dapat ditulis angka yaitu keuntungan sosial (*sebuah rasa puas, senang, tenang dan damai di hati karena dapat berkonstribusi sesuai profesinya, membantu masyarakat, melayani customer, dan semua kegiatan yang membuat orang senang secara positif).
Jadi mana yang anda pilih?
Menjadi kompetitor sejati atau menjadi Kontributor (*orang yang berkonstribusi kepada lingkunganya) sejati. Jika menjadi kompetitor sejati maka seluruh tenaga anda akan habis untuk berkompertisi dan mempertahankan kedudukan. Dan jika menjadi kontributor sejati maka tenaga anda akan tercurah untuk meningkatkan kualitas layanan dan kepuasan semua stake holder.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s