Bisnis E-Cloud Computing Indonesia, Bisakah meningkat secepatnya??


Menurut kompas, Rabu 23 Mei 2012, Pertumbuhan bisnis cloud computing indonesia untuk UKM masih rendah, dengan tingkat awareness hanya sekitar 3% saja. Sedangkan potensi penggunaan akses internet mencapai 72 juta pemakai. Data ini bisa jadi menunjukkan sebuah tantangan dan peluang. Tapi jangan senang dulu, perusahaan raksasa sekelas Google saja membuka cabang di Indonesia tanpa membangun data center di Indonesia. Kenapa?? Tingkat transaksi online di Indonesia masih rendah. Sebenarnya ketentuan untuk membangun data center sudah diberi payung hukum dan menjadi kewajiban. Tetapi tetap saja perusahaan besar seperti Google dan RIM enggan membangun fasilitas data center di Indonesia. Apa yang salah? selain infrastruktur, yang penting adalah meningkatkan fasilitas konsumsi data menjadi sebuah transaksi online. Dengan meningkatnya transaksi maka mau tidak mau akan mengundang banyak investor dan perusahaan dalam bidang ICT untuk datang bahkan membangun data center nya di Indonesia. Saya pikir, transformasi bentuk transaksi konvensional menjaditransaksi online  memerlukan kawalan pemerintah dan industri kreatif Indonesia. Banyak hal yang menjadikan pengguna internet enggan untuk melakukan transaksi secara online walaupun diyakini bahwa transaksi ini mempunyai kecepatan tinggi, jangkauan luas, efisien dan ekonomis. Tapi perlu diingat,  sulit untuk membangun trust dalam transaksi online. Ini lah yang perlu di bantu oleh pihak pemerintah dan industri terkait. Menurut saya sebagai konsumen dan pihak yang ingin terjun menjadi pelaku usaha di dalam dunia maya hal-hal yang perlu ada dalam bisnis transaksi online seperti:

    1. Bentuk Fisik, walaupun ada transaksi online, bentuk fisik dari pelaku transaksi haruslah nyata dan dipercaya kedua belah pihak. Sehingga timbul trust yang nyata. Bentuk fisik disini bisa berbentuk lokasi toko atau kantor yang nyata atau badan usaha yang jelas dan terdaftar. Contohnya saja TokoBagus.com yang jelas merupakan suatu badan hukum Perseroan Terbatas yang terdaftar, walaupun saya kesulitan untuk mencari alamat kantor fisik di web nya. Atau contoh lainnya Ebay, yang merupakan perusahaan terkemuka dan telah dipercaya di seluruh dunia. Jika penyedia transaksi adalah usaha kecil atau perorangan, maka harus jelas keterpercayaan nya. Tingkat keterpercayaan online bisa dibangun dari suatu komunitas seperti di forum jual beli kaskus. Di forum tersebut, para seller diberi rating tingkat pelayanan dan keterpercayaannya, bahkan walau tingkat keterpercayaan nya tinggi, transaksi masih harus sering dilakukan dengan COD atau rekber atau bertemu langsung untuk mengetahui kondisi barang yang diperjualbelikan. Jika UKM, mungkin bisa meminta asuhan lembaga terpercaya pemerintah seperti dari kementerian perdagangan atau lembaga swasta terkait untuk menunjukkan keberadaan fisiknya. Sehingga semua pihak yang melakukan transaksi online merasa nyaman untuk melakukan transaksi online.

  1. Konten dan Fitur. Perlu konten dan fitur yang menarik, terpercaya serta kuat untuk menghadirkan suatu transaksi e business sebagai pengganti transaksi konvensional. Contohnya saja untuk pembayaran, saat ini memang banyak per-bankan nasional yang telah menyediakan fasilitas ini untuk dalam negri. Hal ini sungguh memudahkan pelaku bisnis online, tetapi bagaimana jika transasksi merupakan transaksi internasional yang multi curenncy?? banyak layanan seperti paypal yang memberikan kemudahan itu. Paypal darimana?? mengapa tidak ada industri di Indonesia yang melayani kebutuhan ini karena tentu saja ini peluang. Seharusnya di Indonesia mulai banyak fitur yang mendukung hal-hal detail. Harus ada industri kreatif yang menyokong ini, dan ini peluang besar. Contoh lain yang sudah berkembang adalah fasilitas develope web instan untuk toko online, seperti wordpress atau blogger untuk kategori blog, Berapa banyak perusahaan IT di Indonesia yang menggarapnya? lalu adalagi fasilitas dari google untuk mendirikan layanan garatis alamat web untuk UKM, Tapi berapa banyak yang memanfatkannya?. Lebih butuh banyak lagi industri kreatif yang bermain untuk mengurus hal-hal yang lebih detail dalam e business Indonesia. Sehingga membuat orang tertarik untuk terjun ke dalam transaksi e business tersebut
  2. Kreatif mencari sisi bisnis Modal, keberadaan fisik, dikenal, memiliki fitur, dan konten menarik, bukan jaminan akan adanya sebuah arus keuntungan yang masuk atau sering disebut monetisasi. Walaupun konten dan fitur kita sering didatangi oleh pengunjung dan mendapatkan hits yang banyak, sungguh susah untuk menggugah ada transaksi yang terjadi. Karena secara naluriah masih suka dengan kata “free” dan “gratis”. Harus ada role business yang berjalan, strategi dan rencana agar konten dan fitur yang menarik dan berharga menjadi suatu arus kas. Seperti Google yang menggratiskan sebagian besar konten dan mengkomersialkan sedikit konten premium dan iklannya. Saya cenderung menganalogikannya untuk mengundang rakyat banyak untuk mendirikan kota dan menyediakan tempat untuk pedagang untuk melakukan usaha. Ya… membuat kota. Dan transaksi mereka inilah salah satu sumber dari arus kas google. Atau strategi lain seperti layanan jurnal online yang hanya mengundang yang berkepentingan dan membutuhkan dengan membayar biaya langganan. Mereka seperti membuat suatu member eksklusif untuk para expert…. dan itu dapat membiayai operasi mereka. Itulah strategi dan pentingnya strategi….
  3. Dukungan Peraturan dan Hukum. Dukungan peraturan hukum sangat penting untuk mendukung kegiatan e business berjalan secara tenteram. Ini tampaknya masih sulit di Indonesia, hukum perdata dan pidana yang di dunia nyata saja seringkali sulit dimengerti dan membuat orang terkaget-kaget ketika dipraktikkan, apalagi hukum di dunia maya, yang semuanya serba cloud. Hukum dan peraturan yang ada saat ini masih terus berkembang untuk mengatur dunia maya. Bahkan cenderung bebas dan tak terkendali. Bagaimana jika terjadi pembajakan konten dan fitur secara terang-terngan, penjiplakan jenis konten dan fitur, transaksi online hitam, penipuan transaksi dan hal-hal lain yang tak ingin terjadi. Semuanya seperti serba beresiko. Kebanyakan orang seperti saya akan akan bingung mau melapor kemana jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, polisi,departemen kominfo, atau ke mana? Bahkan juga bingung mana yang menjadi bentuk kejahatan dunia maya atau bukan. Saya yakin itu semua sudah dipikirkan dan diperhatikan tetapi mungkin perlu disosialisasikan kembali.
  4. Edukasi. Edukasi kepada masyarakat luas sangat penting. Bukan saja tentang teknologi nya, tetapi juga tentang etika, hukum perundang-undangan, strategi bisnis, dan lain-lain. Hal-hal itu lah yang penting dilakukan untuk menumbuhkan jiwa technopreneurship. Banyak sekali sebenarnya sumber daya manusia di Indonesia untuk menggerakkan e business, bahkan banyak yang termasuk orang-orang hebat. Cuma sepertinya masih malu-malu dan belum berani untuk mempertaruhkan hidupnya untuk terjun ke dunia usaha ini. Mungkin karena masih sedikit edukasi dan penerangan tentang hal ini….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s