Koefisien Korelasi dan Koefisien Determinasi


Lagi-lagi ini tulisan iseng ditengah ngerjain proposal thesis… Koefisien korelasi itu kan perangkat dari uji statistika yang sering digunakan untuk menunjukkan suatu hubungan antara 2 peubah. Tidak seperti regresi linear yang sangat memisahkan antara ke dua peubah yang diuji, koefisien korelasi itu mengandalkan sebaran data dari suatu rangkaian pengambilan data dalam populasi. Nilai koefisien korelasi berkisar antara 0,0 hingga 1,0. Makin tinggi nilainya makin erat hubungannya dan hasilnya bisa berhubungan positif atau juga bisa berhubungan negatif (berlawanan).  Sedangkan koefisien determinasi adalah kuadrat dari koefisien korelasi.

Apakah saya mau bahas lebih lanjut tentang teori statistik ini??? oh…. tentu tidak. Hehehehe…. Yang mau saya bahas adalah tentang  kemampuan manusia mengatur sesuatu hal.. masih berhubungan lah dengan koefisien korelasi dan determinasi. Ilmuwan suka menggunakan 2 uji statistik ini untuk melihat hubungan dari dua peristiwa yang secara teoritis berhubungan namun persamaan eksak atau empirik nya susah dicari. Jadi mereka secara sense naluriahnya paham bahwa itu berhubungan tetapi tidak dapat menjelaskan keteraturan itu secara pasti. Sehingga inilah jalan pintas ilmiah untuk menunjukkan seberapa dekat korelasi dua peubah, peristiwa, fenomena, atau kejadian.

Jadi poin nya adalah…. kita ini bodoh… banyak yang tidak kita ketahui bagaimana mekanisme nya, padahal secara naluri, akal, dan kasat mata kita dapat menyaksikan ada 2 peristiwa yang berhubungan itu benar benar terjadi. Misalnya fenomena alam di sekeliling kita, hubunganjenis makanan ternak dengan perkembangan tubuhnya, hubungan tingkat kesuburan tanah dengan sifat fisik tanahnya, hubungan tingkat selera konsumen dengan penjualan…. semuanya secara teori dapat dijelaskan… tapi tidak secara eksak. Secara eksak maksudnya bahwa peristiwa Y adalah fungsi dari X (misal : Y = 2X +3,456). Sehingga keinginan manusia untuk dapat mengatur segalanya di dunia ini dengan mutlak itu tidak mungkin. Manusia mau berusaha dengan cara A misalnya, secara teoritis seharusnya dia dapat hasil B, tetapi malah dapat hasil Z. Maka nikmat mana lagi yang mau kita dustakan. Itulah kenapa kita butuh  tawakkal….. pasrah, tapi tetap berusaha. Tapi tetap saja keputusan nya ada di tangan Alloh Azza wa Jalla.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s