Prosa : Sajak Sebelum Ujung Senja


Manusia bertebaran di dunia, menyemut di antara denyutan kebutuhan dan ambisi. Langkahnya ada yang cepat, berderap, tegap, tapi ada juga yang terseret, tertatih  dan gontai. Daratan, lautan, dan angkasa telah sesak oleh kehendak manusia. Diantara kehendak itu ada yang menjadi garis cakrawala, yang memisahkan ambisi dan takdir, dan sebagian lagi terbang bebas melebur bersama takdir. Tapi nanti diujung senja semuanya akan jatuh kembali ke tanah, menemui sang sari pati kehidupan. Apa yang telah ditelan dari tiap ambisi dan kehendak akan menjadi butiran debu dan akhirnya hilang. Saat itu semua yang  berat menjadi ringan, yang ringan menjadi berat, yang telah dilakukan dan tak dilakukan menjadi penyesalan, yang dikira abadi ternyata fatamorgana. Akulah manusia itu, sebelum ujung senja aku bersajak. Mencoba merunut lagi setiap titian langkah ambisi. Karena aku tak diabadikan disini. Bahkan siang dan malam yang saling mengejar di tiap masa, nanti akan lelah di ujung senja. aku berbatasan dengan batas, batas itu  cakrawala, waktu, atau ujung senja. Tapi aku yakin ada abadi di balik lintasan batas. Sebagian akan abadi dalam bahagianya, dan sisanya abadi dalam kerugiannya. Karena telah terkabarkan bahwa yang sementara menetukan yang abadi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s