Perjalanan Panjang (1)


img_20120229102107_4f4d99a33d382 Apa yang membuat perjalanan panjang menjadi menyenangkan, penuh suka cita, dan tak tersia-sia….? Salah satunya mungkin dengan Ikhlas… gampang sekali buat diucapin. Tapi  praktek nya susah sekali. Ikhlas itu suatu kata yang sering kita dengar di jaman modern ini. Ikhlas itu menjadi sebuah kekuatan branding, logo, dan semangat korporasi, terutama yang berhubungan dengan kepuasan pelanggan atau istilah kerennya customer satisfaction. Atau ikhlas itu dekat dengan resiko usaha, misalnya adalah peluang resiko kegagalan atau rugi modal yang akan ditanamkan adalah 15%, maka mau tidak mau para pemilik modal harus bersiap siap untuk ikhlas modalnya akan hilang sebesar prosentase tersebut. Dan juga ikhlas itu identik dengan ketidak berdayaan seorang warga negara di suatu negara yang sudah merdeka tetapi masih dijajah oleh feodalisme bangsa nya sendiri. Misalnya harus membayar semacam uang damai ketika ketahuan tidak membawa surat-surat ketika di perjalanan. Apa kah ini ikhlas….

Anehnya ketika abad 21 terus bergulir, era mobil hybrid ramah lingkungan muncul  menjadi emerging technology, pergerakan kegiatan ekonomi bergerak ke semua sektor dan sendi kehidupan, dan semangat konsumtif secara masif diaggap akan menyelamatkan perekonomian negara…. Saat itu juga perjalanan manusia melawati hari-harinya dibumi akan terasa semakin panjang. Ya, perjalanan panjang karena manusia sekarang mempunyai harapan, mimpi, keinginan, ambisi, dan ego yang lebih besar… bahkan beberapa ada yang menembus batas cakrawala. Sedihnya, perjalanan yang semakin panjang itu diikuti dengan semakin menyempitnya makna ikhlas. Karena jika ikhlas pada satu atau dua dekade yang lalu adalah sesuatu yang nggak seharusnya sering diucapkan, maka saat ini ikhlas akan menjadi suatu nilai tambah dalam kehidupan jika sering ditampakkan. Ironi satir nya adalah adanya perlombaan untuk menampakkan keikhlasan, pemandangan getir itu bahkan menjadi hiburan yang menyenangkan, menjadi tontonan untuk mengurangi beban beban ego dan ambisi yang semakin besar.

Ketika parade keikhlasan menjadi tontonan yang menghibur, menyentuh hati, dan mudah didapatkan dimana-mana. Ada kekhawatiran bahwa  ikhlas itu menjadi berkurang maknanya. Karena semakin banyak orang yang dapat menampilkan keikhlasan dalam kehidupan sehari-hari. Karena semakin banyak orang yang semakin bangga untuk berbuat ikhlas. Dan bahkan saya pun harus berbangga mengumukan keikhlasan untuk menulis tulisan ini… Lalu jika semuanya bisa mempraktekkan dan menampilkan ikhlas, maka seharusnya dunia ini menjadi gemah ripah loh jinawi, makmur sentosa, persaudaraan dimana-mana, kedamaian menyelimuti permukaan bumi, dan adil makmur menjadi kenyataan.

Tetapi kan nyatanya tidak… nyatanya bukan seperti itu yang terlihat. Nyatanya bukan itu yang ditulis di berbagai media informasi. Karena makin sering banyak perang yang terjadi saat ini, kelaparan masih banyak walaupun yang berlebihan makanan juga banyak. Mungkin ikhlas itu seharusnya berarti tenggelam. Ya… ikhlas itu diam dan sepi, seperti air di lautan yang tak pernah lelah menerima air dari daratan, seperti tanah yang tak pernah marah diinjak injak oleh berbagai macam kehidupan, seperti langit yang tak pernah ngambek dan turun ke bumi, seperti udara yang tak pernah menolak untuk dihirup, seperti api yang selalu membakar dan tak berkompromi. Dan yang paling penting, mereka semua tidak pernah mengingatkan kita bahwa kita berhutang banyak dalam kehidupan, tak pernah menyadarkan kita bahwa selama ini kita bergantung pada semua unsur tersebut. Sehingga ikhlas itu diam, sepi, tersembunyi, dan seperti tak pernah ada. Walaupun itu nyata. Dan ikhlas itu tidak berprofit, tidak menguntungkan, dan sungguh melelahkan….

Jika definisi ikhlas seperti ini, maka ikhlas itu sepertinya sangat kelam dan merugikan. Baiklah kita naik lebih tinggi ke penggambaran ikhlas yang lebih tinggi lagi derajatnya. Ikhlas itu diam dan sepi tapi bukan berarti nggak berharap apa-apa, Ikhlas itu tenggelam tapi bukan buat hilang selamanya, malahan bertujuan untuk nemuin mutiara di lautan. Dan ikhlas itu perdagangan, tapi bukan berdagang sama yang berhutang budi sama kita, tetapi berdagang sama raja dari makhluk yang kita tolong. Dan rajanya itu tuhan. Ya, ikhlas itu bukan berarti pasrah nggak ngarepin imbalan, pasrah karena nggak berdaya, diam karena nggak mau apa-apa. Tapi ikhlas itu adalah pengharapan sama rajanya semua raja. Berharap diberi imbalan sama yang paling maha kaya diantara yang kaya. Dan ikhlas itu bukan berarti miskin, karena ikhlas itu sendiri kekayaan yang jarang dimiliki orang kaya yang nilainya jauh lebih besar dari nilai kekayaan orang-orang kaya. Yang lebih tinggi lagi dari penggambaran ikhlas adalah cinta…. dan cinta tertinggi itu adalah cinta kepada tuhan, dan cinta paling buruk adalah cinta dunia. Bagaimana kita bisa begitu sangat mencintai dunia yang nanti pasti kita akan tinggalkan di akhir tarikan nafas terkahir kita?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s